Merangkai Kata, Merajut Kisah, Meraih Asa

This is the post excerpt.

Advertisements

Jemari menari melewati deretan alfabet, merangkainya menjadi sebuah kisah tuk dikenang, melukiskan asa yang indah tuk diraih teriring do’a terindah pada Sang Khalik…Sang Maha Pemberi… Allah swt…

Bahasa Dunia Maya

Semakin berkembangnya teknologi, makin tak terbatasnya informasi dan cara berkomunikasi. Internet bahkan menjadi hal biasa termasuk di pelosok daerah sekalipun, meski terkadang masih terkendala sinyal yang kurang baik. Semua orang, semua kalangan hampir tidak mau tertinggal informasi dan tak mau dibilang “kudet”.
Dan yang masih menjadi tren saat ini adalah bermunculannya group via media sosial, dari group teman2 sekolah, teman kerja, teman arisan, teman perumahan, tetangga sampai dengan group parenting yang membuka kesempatan kita untuk kenal dengan orang baru dari daerah sampai dengan negara yang berbeda. Group parenting via aplikasi media sosial sedang menjamur, masing2 memiliki visi misi yang menawarkan gaya belajar baru bagi para orang tua dan calon orang tua sehingga mau belajar dimana pun dan kapan pun.

Namun berkomunikasi melalui dunia maya ternyata tidaklah semudah jemari2 ini mengetikkan tombol2 huruf merangkai kata dan kalimat. Setidaknya bagi saya pribadi, mungkin ada teman2 yang bisa berbagi pengalamannya melalui komentar jika berkenan…

Bahasa tulisan, salah membuat singkatan, salah menempatkan tanda baca, salah menggunakan huruf besar, salah memilih kata bisa berakibat fatal. Membuat salah paham yang membaca, membuat pengertian yang berbeda bagi yang membaca sampai menyinggung atau melukai perasaan orang lain. Warna warni inilah yang saya alami dalam berkomunikasi di dunia maya khususnya via chatting media sosial. Maksud baik, tapi terkadang tidak diterima dengan baik karena yang membaca salah mengerti, atau yang membaca sedang tidak konsen atau yang membaca sedang tidak nyaman perasaannya (moody bahasa saya).

Ketika pertama kali mengalami, wuzzzzz emosi saya ikutan meninggi ketika terjadi salah paham atas apa yang saya maksud dengan yang mengartikan. Alhamdulillah masih diberi sabar dan diingatkan Allah bahwa kita mencari teman berbagi dan belajar bukan musuh yang saling menyakiti. Dinamika berkomunikasi di dunia maya membuat emosi layaknya roller coaster. Naik turun begitu cepat. Seiring waktu berjalan perlahan mulai belajar untuk memahami karakter orang2 yang kita temui via dunia maya, ini berlaku jika kita memang sudah intens berkomunikasi lho ya…

Untuk yang baru saja kenal dan berkomunikasi, intinya adalah gunakan kata yang baik. Share tips berkomunikasi di dunia maya ala saya ini ya…

~~> Sebagai Pembaca

  • Baca perlahan chat
  • Ketika ada singkatan atau kata2 yang kurang dimengerti segera tanyakan untuk konfirmasi 
  • Baca ulang jika mulai merasa ada kata/kalimat yang kurang nyaman dibaca
  • Menjawab atau berkomentar jika dirasa perlu saja
  • Intinya husnudzon dan bertabayyun dulu sebelum menilai seseorang

~~> Sebagai Penulis

  • Hati2 dalam mengetik
  • Gunakan bahasa yang baik dan sesuaikan dengan kultur komunitas tempat kita bergabung
  • Gunakan singkatan atau istilah2 yang umum digunakan oleh kebanyakan orang, misal yang -> yg, jangan -> jgn
  • Baca ulang sebelum di posting/send/share
  • Pastikan apa yang kita ketik/sampaikan sudah menggunakan kata2 yang baik dan tidak berpotensi menyakiti orang lain
  • Intinya “make sure” sebelum pencet send/post/share

Semoga bermanfaat…;)

Belajar Tanpa Henti Untuk Menerima dan Mengikhlaskan

Dan seluruh kisah berawal disini…


Perjuangan Berbalut Kasih Orang Tua



Ketika orang tua berjuang untuk membiayai anak-anaknya kuliah, bekerja siang malam mengabaikan rasa letih. Apapun akan dilakukan demi menukarkan tetesan peluhnya dengan keberkahan dan keridhoan Allah melalui rezeki halal. Berharap keridhoan Allah juga menyertai setiap langkah kaki anak-anaknya dalam meraih cita-cita.
Cita-cita anak adalah impian besar bagi setiap orang tua, berharap anak-anaknya mendapat kehidupan yang lebih baik melalui bekal pendidikan tinggi yang telah dicapainya. Meskipun parameter untuk pencapaian kehidupan yang lebih baik konotasinya selalu berupa materi. Hal ini menjadi hal yang dianggap wajar bagi semua orang tua dan setiap manusia sepertinya.
Senyum dan aura kebahagiaan terpancar menatap sang anak begitu menawan dengan baju toga dan map ijazah di tangan. Ditambah rasa bangga akan prestasi sang anak, lulus dengan predikat memuaskan. Berjuta kata tersusun menjadi kalimat-kalimat kebanggaan, yang akan diceritakannya pada rekan kerja, tetangga, keluarga, kerabat jauh hingga orang-orang yang baru dikenalnya.


Anak kami sudah lulus S1 dengan predikat memuaskan



Dan gegap gempita kebanggaan akan secara perlahan meredup, ketika kenyataan hidup sudah terbentang di depan menunggu pijakan kaki sang anak menapaki masa depannya. Ya, setelah kuliah apa lagi yang akan dilakukan oleh sang anak, kerja, menikah atau….
Senyum lebar perlahan meredup menjadi senyum seulas garis, ketika sekitar mulai bertanya-tanya,
“Anaknya sudah bekerja pak/bu?”
“Mba kerja dimana sekarang?”
“Ooo, belum kerja ya?”
“Sarjana kok kalah sama anak SMA, anak saya cuma lulus SMA sudah bekerja. Kok anak bapak/ibu yang sarjana masih pengangguran?”
Tidak nyaman dengan komentar sekitar, hati dan pikiran mulai terusik. Membuat orang tua maupun anak mendadak ingin memiliki rumah siput, agar setiap bertemu orang bisa menghindar dengan masuk dalam rumah. Lalu setelah orang-orang berlalu pergi, baru akan menampakkan diri kembali.

Tapi apa hidup bisa seperti itu, sembunyi dari kenyataan, sembunyi dari lingkungan, karena inilah hidup sesungguhnya…
Selepas mendapatkan pekerjaan, pertanyaan sekitar tetap mengalir tanpa henti. Entah ini memang jadi kebiasaan orang Indonesia untuk selalu ingin tahu atau hanya orang-orang di sekitarku. Satu persatu pertanyaan muncul…
“Posisinya apa mba?”
“Gaji anaknya berapa kerja disitu pak/bu?”
“Sudah kerja, jadi kapan nikahnya?”
“Belum punya calon pendamping ya?”
“Kapan kami terima undangan?”
Sampai di hari Lebaran yang jadi hari istimewa berkumpulnya seluruh keluarga besar seakan berubah menjadi hari yg sangat menakutkan bagi para Sarjana pengangguran dan single seperti saya. Andai bukan lebaran mungkin lebih baik menghindar, tapi sampai kapan bisa menghindar. Hadapi saja dengan senyum semanis madu meski hati bagai tersengat lebah rasanya.
Dan saya pun yakin, kondisi dan situasi seperti diatas bukan saja membuat diri merasa tidak nyaman tapi hal yang sama juga dirasakan oleh orang tua. Bukan hanya saya yang berjuang menata hati dan pikiran, berjuang mengais kesabaran dan keikhlasan di tengah tumpukan rasa pesimis dan malu, berjuang untuk tetap yakin bahwa Allah akan memberi jalan terbaik untuk hambanya ini. Dan masih ada orang tua yang tetap berjuang untuk bersabar dan tersenyum didepan saya, berjuang mendo’akan kebaikan bagi anaknya.
 

Menyempurnakan Separuh Agama



Menikah menjadi hal yang begitu dinanti bukan hanya bagi anak gadis tapi bagi orang tua dan keluarga besarnya. Terlebih jika sang anak gadis sudah dekat dengan seseorang. Memang karena rasa khawatir akan terjadi fitnah, alangkah baiknya untuk disegerakan.

Menyempurnakan separuh agama, impian berjodoh dengan seseorang yang terbaik yang Allah kirim sebagai jawaban atas do’a-do’a saya selama ini. Berharap dialah yang dapat menjadi imam dan membangun rumah tangga sakinah mawaddah dan warahmah.
Menikahkan anak menjadi tanggung jawab orang tua, mencarikan jodoh terbaik bagi anaknya. Seperti firman Allah berikut ini,

 “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Tapi ternyata dari proses bernama pernikahan ini, menjadi pelajaran penting dalam hidup saya dan suami. Ini kami sadari ketika pernikahan sudah berlangsung beberapa tahun, saat hati mulai bisa mencerna dengan pikiran sehat bukan dengan sekedar rasa.
Bahwa menikah itu tak lagi sekedar kesiapan mental dan materi dari calon suami dan istri. Ada satu hal yang juga harus jadi bahan pertimbangan bagi para orang tua yang anak-anaknya akan menikah. 

Pertanyaan-pertanyaan berikut harus menjadi bahan renungan bersama bagi orang tua yang akan melepas anak-anaknya menikah,

  • Sudah siapkah melepas anak hidup dengan pilihan hatinya?
  • Sudah siapkah menerima calon menantu sebagai anak dalam makna sesungguhnya?
  • Sudah siapkah mengikhlaskan hati bahwa hak nya akan anak akan berkurang? Termasuk waktu sang anak untuk mereka
  • Sudah siapkah melepas anak hidup mandiri sesuai pilihannya?
  • Sudah siapkah menerima segala keputusan sang anak sehubungan dengan tanggung jawab barunya sebagai seorang istri dan ibu
  • Bersediakah melepas ego dan mengikhlaskan segala pengorbanan selama membesarkan anak hingga kini sang anak memilih hidup bersama pasangannya

Daftar pertanyaan yang begitu banyak, akan jadi pelajaran berharga bagi saya dan suami jika kelak anak-anak kami menikah.
Lalu apa yang dapat kami ambil makna dari semuanya, memanfaatkan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Mengasuh dan merawat bersama, berbagi peran antara suami dan istri. Menyeimbangkan peran tersebut dalam proses mendampingi tumbuh kembang anak.
Peluk, cium, bermain dan menghabiskan waktu sebanyak mungkin mendampingi anak-anak kita sekarang. Nikmati kebersamaan meski kadang lelah dan letih menerpa. Berikan banyak waktu luang bersama mereka. Karena akan ada masa dimana kita merindukan kebersamaan itu, rindu kebersamaan, rindu pelukan, rindu ciuman, rindu manja mereka. Tapi mereka sudah memiliki pilihan hidupnya, mereka sudah mempunyai prioritas tersendiri, yang kita tidak bisa lagi selalu ada di dalamnya.
Tak perlu membanjiri mereka dengan hadiah mainan atau barang-barang bagus, mengajak mereka berlibur ke tempat-tempat favorite dan mahal. Cukup isi dengan kebersamaan, isi hatinya dengan keberadaan kita disisi mereka. Selalu ada saat mereka butuh, tak lagi sekedar menjadi orang tua tapi menjadi teman terbaik mereka. Yang bisa kapan saja menjadi tempat mereka bercerita, tempat mereka bermanja-manja. Hingga kelak tanpa kita minta mereka akan dengan ringan menceritakan semuanya kepada kita karena mereka tahu bahwa kita selalu ada untuk mereka.


Rumah Tangga Impian Rumah Tangga Surga



Setelah menikah akan banyak keputusan besar yang diambil, dan inilah yang harus saya rasakan. Pilihan yang berat tapi harus dipilih dan harus dijalani. Menjadi ibu rumah tangga, yes fulltime mom. Benar-benar seorang ibu rumah tangga yang mengurusi suami, anak dan setumpuk pekerjaan rumah saja. Berat di awal, dimana teman-teman kuliah sebagian besar bekerja dengan setelan rapih, baju kantoran, make up, aksesoris, tas dan sepatu yang nampak indah di penglihatan saya. Sukses dengan karier nya masing-masing,  meskipun mereka juga punya suami dan anak sama seperti saya. Lalu mulai muncul pertanyaan dalam benak saya,
Mereka bisa kenapa saya tidak?


Kenapa saya harus mengorbankan ijazah S1 dengan hanya berkutat pada dapur, sapu, pel, daster, dan bau ompol anak sepanjang hari?

Kenapa saya tidak bisa memperjuangkan impian saya selama ini?
Dan semakin banyak pertanyaan yang datang silih berganti seperti slide sebuah film yang sedang bermain di pikiran saya.


Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau, itu benar adanya.

Pertanyaan yang sama selalu ada di hati dan pikiran, mereka bisa kenapa diri ini tidak bisa. Siapa yang tidak ingin, tampak rapih dengan baju-baju bagus, makeup cantik, tas dan sepatu branded. Bisa hangouts dengan teman-teman kerja, di cafe, mall or tempat-tempat makan favorite. 
Setumpuk pertanyaan diri sendiri yang belum terjawab, perlahan tapi pasti bertambah dengan beban pertanyaan dan komentar dari orang tua dan mertua.
“Sayang dong ijazah nya klo ga kerja, capek-capek sekolah, sudah keluar biaya banyak tapi ga kerja?”
Atau…
“Kenapa ga kerja klo kerja kan enak bisa punya uang sendiri. Bisa bantu-bantu suami untuk ambil rumah, pengen apa-apa ga harus mengandalkan suami terus”
Ditambah lagi dari keluarga besar dan lingkungan sekitar, komentar-komentar yang terkadang pedih untuk didengar. 
“Sarjana kok cuma jadi ibu rumah tangga, ga usah sekolah tinggi-tinggi klo ujung-ujung nya didapur juga”
Saat diri ini sedang berjuang menerima permintaan suami untuk menjadi fulltime mom, saat sedang membutuhkan dukungan dari banyak pihak yang didapat justru komentar-komentar yang membuat diri semakin jatuh. Berasa makin menyesal menerima permintaan suami, merasa suami tidak peduli dengan apa yang saya rasakan, merasa suami tidak dapat menerima diri ini apa adanya.
Kan sebelum nikah juga sudah kerja, sudah tahu juga pengen tetap jadi ibu bekerja. Kenapa sekarang tidak boleh kerja, kenapa sekarang cuma disuruh jaga anak dan urus pekerjaan rumah tangga
Bertahun-tahun berjuang, belajar menerima dan menjalani dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur. Selain juga berjuang memberi pengertian kepada orang tua, mertua  dan keluarga besar. Tidak semudah membalik telapak tangan, tapi perlahan hati ini merasa yakin akan pilihan hati untuk menerima permintaan suami. Meski terkadang masih naik turun, tapi perlahan hati ini mulai tenang menjalani keputusan besar ini.
Makin tersadar pula, bahwa tidak ada yang salah dengan 
Sarjana kok cuma jadi ibu rumah tangga



Karena hakikatnya peran sebagai ibu dalam mendampingi tumbuh kembang anak memang tidak dapat diwakilkan oleh kakek/nenek atau om/tante bahkan pembantu/babysitter sekalipun . Pengasuhan anak yang terbaik adalah melalui tangan ayah dan bundanya. Dan ilmu itu harus terus dipelajari sepanjang perjalanan  mendidik anak, karena ilmu parenting terus berkembang.
Tidak lagi bisa metode pengasuhan jaman orang tua kita dulu diterapkan secara menyeluruh, ada hal-hal yang dianggap sudah tidak relevan lagi dengan masa-masa sekarang. Lalu ilmu Sarjana kita memang dipakai?, secara keseluruhan mungkin tidak. Terutama bagi saya yang semasa kuliah lebih banyak berkutat dengan ilmu-ilmu kimia industri. Tapi semangat dan rasa haus akan ilmu, semangat membaca, semangat menggali ilmu, mengamati dan terbiasa trial n error membuat saya juga terus semangat memperbaiki kualitas diri sebagai istri dan ibu. 

Ilmu-ilmu sains dapat saya ajarkan kepada anak-anak secara perlahan, dari mulai tahapan sederhana sesuai usia mereka. Dengan sains, banyak ilmu-ilmu kehidupan yang akan mereka pelajari. Dan poin terpenting, mereka tahu dan belajar lewat tangan bundanya bukan melalui orang lain.
Ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya, karenanya sebagai ibu perlu untuk selalu meningkatkan kualitas. Belajar memahami karakter anak, kebutuhan anak, tumbuh kembang anak, dan menjadi guru private mereka saat belajar. Tidak harus kuliah dulu di psikologi untuk menjadi ahli dari semuanya, banyak cara untuk mendapatkan ilmu. 

Membaca buku atau artikel, bergabung dengan komunitas parenting,  sharing dengan sesama orang tua, mengikuti parenting sharing/seminar parenting yang sudah mulai menjamur. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menjadi ibu pintar dan banyak jalan menjadi istri sholehah. Aamiin
 

Belajar Menerima dan Mengikhlaskan



Perjalanan sebagai anak yang tidak mudah, keinginan hati untuk terus berbakti membalas segala pengorbanan orang tua atas keberhasilan yang sudah kita raih. Baik itu berupa pendidikan maupun materi. Namun semua menjadi terbentur pada keadaan, dimana kita sudah memiliki keluarga sudah berumah tangga. Sudah memiliki prioritas lain dalam menjalani hidup.
Yang tersisa hanya keikhlasan menerima dan menjalani semua, menerima kini tanggung jawab dan kewajiban anak sudah berpindah. Tidak mudah membiasakan diri dengan hal yang masih tidak umum di masyarakat. Mungkin hasil yang didapat tidak bisa kita lihat atau rasakan saat ini, tapi kelak cucu-cucu mereka akan tumbuh menjadi anak-anak tangguh, berkarakter, dan yang utama dipenuhi keimanan pada sang pencipta Allah swt.
Tidak pernah ada yang salah dengan sebuah pilihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, karena memang tugas ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya. 

Karena dalam Islam pun disebutkan keutamaan seorang istri adalah berdiam di rumah, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

 
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
 
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Maafkan anakmu ini Bapak dan Ibu, bukan tak lagi menghormati, bukan tak lagi punya waktu untuk kalian. Tapi kewajibanku beralih pada suami dan anak2, tanggung jawabku pada imam dan amanah Allah. Hormat, sayang dan do’a akan selalu ada untuk Bapak Ibu.
Sebuah kisah yang dapat menjadi renungan bagi orang tua dan anak perempuan yang mengharap ridho Allah atas ketaatannya pada suami…

Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan—sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah—, tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya. 
Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, 

“Taatilah suami kamu.” 

Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW. Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, 

“Taatilah suami kamu.”

Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Ketika seorang anak perempuan telah menikah, maka sebagai seorang istri memiliki keutamaan untuk taat kepada suami. Selama ketaatan itu masih berada di koridor syariat dan tidak melanggar perintah agama. Kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya, karena ini merupakan kesalahan besar. Setelah menikah, anak perempuan bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tua, melainkan menjadi tanggung jawab suami. Allah SWT berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan se ba hagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)” (QS an-Nisaa’ [4]: 34). 

Namun terkadang banyak orang melupakan bahwa anak kita bukanlah milik kita sepenuhnya, yang bisa kita perlakukan dan kita buat menjadi apa yang kita mau. Anak adalah amanah Allah, milik Allah yang suatu saat akan kembali juga kepadaNya. Ikhlaskan ketika mereka ketika sudah waktunya untuk mandiri dan ingatkan ketika mereka lengah.
Meskipun kini sebagai istri memiliki kewajiban mentaati suami, tidak berarti harus memutus tali silaturahmi kepada orang tua atau mendurhakai mereka dan seluruh keluarga. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya.